
saya sedang melarikan diri dari ujian besok..
Of course this day will be! I hope I won’t forget this day..
(That’s why you’re typing, Sha!)
Hum.. Sebagai anak kelas tiga SMP yang lagi ‘PDKT’ ma soal-soal UAN, aku mau nggak mau kalang kabut juga. Gimana nggak? UAN tinggal sekitar tiga bulan lagi, tapi otakku nggak mau diajak kompromi (though it’s all my fault, always using SKS-Sistem Kebut Semalam-once I wanna have a test). Lalu bantuan pun datang bagi yang meminta….
Aku disuruh (I’m forced!!) ikut lomba Cepat Tepat di SMAN 1 Depok. Tapi, di lomba cepat tepat ini murid-murid yang ikut (15 orang) dibagi menjadi 5 kelompok (2 IPA, 2 MTK, 1 Ekonomi), dan guru-guru dengan teganya menunjukku untuk ikut Cepat Tepat pelajaran MTK!! Dua kelompok MTK itupun akhirnya diberi pelatihan setiap abis Dzuhur. Kalau dilihat sekilas, mungkin anak-anak pelatihan ini udah kayak anak-anak tukang bolos pelajaran yang rusuuuuuuuh banget. Tapi aku belajar kok!! Nggak main. Paling parah juga nyontek jawaban….
‘Kursus gratis’ yang berakhir jam 3 sore (semua harus balik ke kelas untuk siap-siap shalat Ashar) itu ngebuat aku tambah stres. Masuk kelas, langsung ditagihin uang kas kelas yang ternyata nunggak sampe 50ribu. Setelah janji bakal bayar besok, aku baru inget kalau hari ini piket. Kulihat sekeliling. Tampak… sampah-sampah peninggalan tugas KTK bertebaran. Ya Allah, apa salahku? Kenapa aku harus piket di hari yang ada pelajaran KTK-nya?
“Paling nggak, nggak ada gabus kecil nan ‘indah’ itu, Sha..” kuhibur diriku ini. Selesai piket, aku denger Bu Indar, guru fisika sekaligus wali kelasku tercinta yang nggak ganti dari awal masuk SMP ini bilang kalau kelompok IPA mau belajar pulang sekolah nanti. Aku yang sudah menguap rumus-rumus fisikanya, digantikan rumus-rumus pemfaktoran aljabar tercinta itu langsung minta ikut (abis itu diprotes sama satu anak IPA. Curang, katanya..).
Well, ternyata dugaanku benar!! Rumus sih masih lumayan inget, tapi ternyata teoriku menghilang bersama hafalanku yang lain! Masa’, aku sama Bella (satu-satunya yang bertahan ikut fisika ini selain aku) lupa, termometer untuk badan namanya apa!
Bella : “Termometer raksa, Bu..”
Aku : “Termometer batang!”
Bella : “Nas! Bukannya termometer lidah?”
Aku : “Itu tempat naruhnya kali..”
Bella : “Termometer lidi, Bu..” (wah, Bella putus asa!)
Aku : “Termometer analog..”
Bella : “Analog mah, yang digital juga bisa, Nas!”
Bu Indar : “Udah, tanya Naufal aja tuh. Dia lagi belajar biologi,”
(fyi, Naufal adalah anak yang paling jago fisika di angkatanku)
Dan ternyata jawaban Naufal sangat mengejutkan: KLINIK. Ya Allah, kok nggak kepikiran?! Kenapa nggak hospital aja sekalian, biar makin deket sama medis-medisan….
Bu Indar yang sangat semangat kalau udah ngajarin murid-muridnya (sampe nggak nyadar kalau udah jam setengah enam sore) terus mengajari aku dan Bella sampai tahu-tahu adzan Maghrib berkumandang. Whew, nyaris 12 jam aku di sekolah! Dan saat-saat seperti ini, suatu hari akan membuatku terkenang betapa bahagianya aku saat SMP ini….